TRANSPORTASI PASIEN KRITIS

Apabila seorang pasien kritis dirawat di suatu rumah sakit, ICU adalah tempat yang paling ideal baginya, terhubung dengan sebuah ventilator canggih dengan seluruh pompa infus bekerja dengan lancar, lengkap dengan pengawasan monitor, dan dengan perawat yang siap sedia untuk merawat pasien. Keadaan itu membuat pasien dalam keadaan yang terkontrol dan tenang, jika tidak sedang dilakukan prosedur perawatan, diagnosis atau terapi. 

Jika keadaan menjadi gawat maka sebuah tim yang terdiri dari perawat dan dokter yang terlatih, siap menangani dengan seluruh perlengkapan yang tersedia. (the intensive care society 2002a) Seorang pasien yang dalam keadaan sakit kritis ialah jika ia dalam keadaan yang membutuhkan segala bentuk topangan satu atau lebih organ, atau yang sangat mungkin akan mengalami keadaan kardiak, respirasi, atau neurologi yang akan membutuhkan topangan dan bertahan hidup dengan bergantung pada instrumen terapi dan monitoring tingkat lanjut. Prinsip-prinsip transportasi pasien kritis yang akan kita bahas tidak berlaku pada pasien yang sadar penuh, stabil, dan tidak mengalami atau berpotensi mengalami membutuhkan topangan organ. (Gupta S et al. 2004) 

Seorang pasien mungkin akan berada dalam situasi yang mengharuskannya meninggalkan lingkungan yang aman tersebut untuk diangkat ke bagian radiologi, kamar operasi atau bagian lain di dalam suatu rumah sakit. Pengangkutan ini dapat menyebabkan peningkatan resiko terjadi nya kejadian-kejadian yang tidak diinginkan karena melepaskan hubungab antara seseorang yang dalam keadaan sakit kritis dengan perlengkapan di ICU, menghubungkan nya kesuatu perlengkapan khusus untuk transportasi pasien, memindahkan nya ke suatu tandu yang berbeda, dan mengharuskan nya berada jauh dari tenaga kesehatan terlatih beserta perlengkapan nya. 

Ada kalanya pula seorang pasien harus diangkut ke ICU di pusat rujukan tersier untuk meningkatkan angka harapan sembuh dan hidup nya, atau karena alasan keterbatasan tempat perawatan. Proses pengangkutan itu sendiri harus seaman mungkin, dan tidak menempatkan pasien pada resiko yang tidak perlu. Seperti hal nya pada proses pengangkutan di dalam rumah sakit, gangguan sirkulasi dan ventilasi dapat terjadi saat pasien di ambulans. Demikian pula kemampuan pengawasan pasien lebih terbatas saat pengangkutan, dan lebih sedikit tenaga yang terlatih yang siap sedia 5 selama dalam perjalanan dibandingkan saat di dalam ICU.(Ligtenberg JJM et al. 2005;the intensive care society 2002b) 

Saat ini, pengangkutan pasien-pasien sakit kritis sudah merupakan praktek yang mapan dalam bidang kedokteran gawat darurat. Banyak masalah potensial yang dapat dihindari jika kita melakukan optimalisasi kondisi pasien sebelum pengangkutan. Sebagai seorang ahli anestesi, yang sering menghadapi pasien-pasien sakit kritis, baik yang akan menjalani operasi ataupun yang akan dilakukan tindakan medis lain nya di luar ICU, maka sudah selayak nya kita mengetahui prinsip-prinsip pengangkutan pasien kritis yang aman. Prinsip-prinsip tersebut berlaku secara umum baik untuk proses pemindahan/ pengangkutan di dalam rumah sakit, maupun dari tempat kejadian perkara (TKP) ke rumah sakit. (the intensive care society 2002c)