Puasa Periooperatif Pada Pediatrik

Pada pediatrik, sama hal nya seperti pada dewasa, memerlukan puasa sebelum dilakukan pembedahan dan tindakan anestesi. Puasa bertujuan untuk mengurangi volume cairan lambung dan meningkatkan pH cairan lambung sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya regurgitasi dan aspirasi cairan lambung pada saat operasi. Dalam hal ini berhubungan dengan waktu puasa, tipe makanan dan jumlah atau volume cairan/makanan. (Cook-Sather, 2003; Robertson-Malt, 2008)
Pada orang dewasa, puasa selama 8 – 12 jam tidak banyak menimbulkan masalah. Beda hal nya pada pediatrik, dimana dapat menyebabkan rewel (irritable) pada anak serta membuat orang tua menjadi tidak nyaman. Namun yang lebih penting, hal tersebut dapat menyebabkan hipoglikemi maupun hipotensi pada pediatrik. (Valley, 2005)
Secara umum kejadian aspirasi paru jarang terjadi pada pasien operasi elektif. Beberapa literatur mengatakan insidensi terjadinya aspirasi paru perioperatif sangat bervariasi. Pada tahun 1986 di Scandinavian Teaching Hospital didapatkan insidensi terjadinya aspirasi paru sebanyak 0.7 – 4.7 per 10,000 tindakan anestesi. Setelah 10 tahun kemudian, dari Norwegian Hospital didapatkan insidensinya 2.5 per 10,000; MayoClinic didapatkan 3.1 per 10,000 untuk dewasa, dan 3.8 per 10,000 untuk anak-anak. Sedangkan di North-American didapatkan insidensinya untuk anak-anak mencapai 10.2 per 10,000 dan Ferrari dalam penelitiannya melaporkan insidensi terjadinya aspirasi paru pada pediatrik yang akan menjalankan operasi elektif sebesar 0.04%. (Moro, 2004; Ferrari, 2008)

Mengingat pentingnya puasa preoperatif, dalam hal ini pada pediatrik. Maka penulis memandang perlu untuk menulis referat ini dengan tujuan untuk memahami fisiologi pengosongan lambung serta petunjuk rekomendasi puasa preoperatif pada pediatrik, dimana hal ini diperlukan untuk menghindari komplikasi perioperatif yang dapat terjadi.