PAIN-FREE HOSPITAL

Alasan tersering pasien mencari pertolongan medis adalah karena mereka mengalami nyeri. Selain keluhan utama nyeri tersebut, biasanya terjadi penundaan yang lama di unit gawat darurat hingga terapi nyeri mulai dikerjakan. Penundaan ini menyangkut waktu untuk melakukan triase dan pemeriksaan pasien, dilanjutkan dengan instruksi, pengambilan, dan pemberian obat. Meskipun selama beberapa dekade terakhir telah banyak kemajuan menyangkut penelitian dan penanganan nyeri, akan tetapi nyeri masih sering dianggap remeh dan jarang ditangani baik di dalam rumah sakit maupun dalam praktik klinis sehari-hari dalam komunitas medis. Hal ini nampaknya disebabkan oleh tiga alasan utama meliputi bahwa nyeri seringkali dianggap hal yang tak terhindarkan; dalam praktik medis, nyeri tidak dianggap sebagai suatu prioritas; dan yang terakhir, staf medis yang masih kurang pengetahuannya mengenai nyeri. Oleh karenanya, pengetahuan mengenai prinsip nyeri, pemeriksaan, dokumentasi, dan penanganan, baik farmakologik maupun non farmakologik terhadap nyeri harus diikutsertakan dalam program pendidikan tenaga medis. (French 2013; Viscentin 2002).
       Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang mana berhubungan atau digambarkan sebagai kaitan terhadap kerusakan jaringan atau organ (definisi menurut IASP 1997). Variabilitas yang berhubungan dengan genetik, kultur, usia, dan jenis kelamin menghasilkan respon yang berbeda terhadap rangsangan nosiseptif. Beberapa kelompok pasien sangat rentan terhadap pengendalian nyeri yang tidak adekuat, khususnya anak-anak, lansia, dan pasien yang menderita gangguan komunikasi. Nyeri akut sangat parah pada saat setelah postoperatif, hari-hari setelah cedera trauma, dan bergantung pada jenis pembedahan, durasinya dan tingkat kerusakan jaringan. (Eldor 2013; Piscitelli 2009; Rosenquist 2013)
       Pemberian obat dan prosedur analgetik yang aman untuk mengobati nyeri telah dilakukan selama beberapa dekade terakhir, dan struktur organisasi telah dibentuk guna mensukseskan implementasi penanganan nyeri. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1948 telah mendeklarasikan bahwa penanganan nyeri merupakan salah satu hak asasi manusia, menurut pasal 25. Acute pain services (pelayanan nyeri akut) pertama kali diperkenalkan di Jerman dan Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Pedoman nasional dan internasional untuk terapi nyeri pembedahan akhir-akhir ini telah diperbaharui. Akan tetapi meski demikian, penelitian dari Jerman dan dari beberapa negara telah menunjukkan bahwa penanganan analgetik pasien pembedahan hanya membaik secara berangsur-angsur sejak tahun 1980-an. Sesungguhnya, data mengenai efisiensi terapi nyeri akut di bangsal non pembedahan masih sangat kurang di seluruh dunia. Menyikapi hal ini, maka proyek pain-free hospital (rumah sakit bebas nyeri) telah dimulai di Jerman sejak tahun 2003 lalu. Polish Pain Association pada kongres tahunannya di tahun 2008 telah memulai proyek pain-free hospital. Proyek ini sangat terkenal di Polandia dan banyak center telah bergabung dalam programnya. Masalah utamanya adalah membantu penyusunan tim nyeri dan memberikan pelatihan bagi staf medis yang bersangkutan. Ahli nyeri Polandia telah menyediakan pedoman penanganan nyeri akut pada tahun 2005, yang kemudian diperbaharui di tahun 2008 dan 2011 (Maier 2010; Milewska 2013)

       Di Malaysia sendiri, menteri kesehatan melalui kebijakannya telah mengimplementasikan nyeri sebagai tanda vital kelima pada seluruh rumah sakit sejak tahun 2008 hingga 2011. Kemudian di tahun 2011, diperkenalkan konsep pain-free hospital sehubungan dengan Deklarasi Montreal pada International Pain Summit di tahun 2010. Di Indonesia sendiri, proyek pain-free hospital baru diterapkan oleh salah satu rumah sakit swasta di Bali pada tahun 2014 ini. (Cardosa 2013).