MORFIN INTRATEKAL SEBAGAI ANALGESIA POST OPERASI PADA PEMBEDAHAN DENGAN ANESTESIA UMUM

Opioid telah digunakan selama ribuan tahun sebagai terapi untuk mengatasi nyeri. Obat Opioid yang menggandung lebih dari 20 macam alkaloid didapat dari tanaman papaver somniferum dan kata opioid itu sendiri diambil dari kata yunani “opos” yang berarti jus. Pada tahun 1806 seorang farmasi Jerman berhasil mengisolasi dari opioid apa yang dia sebut “Soporific Prinsiple”  dan pada tahun 1817 dinamakan morphine yang diambil dari nama dewa mimpi yunani, Morpheus. 

Pada anestesia klinik, penggunaan opioid dapat digunakan sendiri atau kombinasi dengan agen lainnya, seperti agen sedasi atau agen antikolinergik sebagai premedikasi. Untuk tujuan ini opioid kerja jangka panjang seperti morfin diberikan sebagai dosis tunggal dalam cakupan analgetik secara umum. Tujuan dari premedikasi dengan opioid adalah untuk mendapatkan sedasi sedang, anxiolisis, dan analgesia dengan turut mempertahankan stabilitas hemodinamik. Untuk induksi anestesia, opioid sering digunakan untuk menumpulkan atau mencegah respon gejolak hemodinamik terhadap intubasi trakhea. (Barash 2006)

Pada abad 19 pertengahan, telah disarankan penggunaan opioid secara regional dapat efektif sebagai analgesi ketika morfin disuntikan ke perineural. Selama beberapa tahun ke depan site of action dari opioid di duga hanya ada di otak saja. Penggunaan opioid pada intratekal anestesia dilaporkan pertama kali pada tahun 1901, sedangkan untuk epidural pada tahun 1979. (Brill S. 2003)


Keberadaan reseptor opioid spesifik di Spinal Cord dan distribusi segmental dari opioid analgesia telah dilaporkan pada tahun 1970 an. Sebagai tambahan dari efek langsung morfin terhadap spinal adalah morfin ikut menghambat descending pathway dengan mempengaruhi periaqueductal grey matter dan rostral ventromedial medulla. (Bernards C.M. 2002)