MODIFIED ELECTROCONVULSIVE THERAPY WITH ANESTHESIA

       Electroconvulsive Therapy (ECT) juga dikenal sebagai kejut listrik (electroshock) atau terapi kejut (shock therapy) atau Electroplexy. Modalitas ini sering digunakan dalam penanganan depresi berat, mania, dan skizofrenia katatonik dan telah banyak dibuktikan manfaatnya dalam ilmu psikiatri modern. Secara tradisional, modalitas ini hanya digunakan pada pasien yang tidak berhasil dengan pengobatan medikamentosa. Namun demikian, ECT tetap menjadi pilihan terapi populer, dan diperkirakan terdapat lebih dari 50.000 prosedur dilakukan setiap tahunnya. ECT pertama kali diperkenalkan pada tahun 1938 oleh seorang ahli neurologi Ugo Cerletti bersama rekan psikiaternya Lucio Bini yang berasal dari Italia dan sejak saat itu sering digunakan untuk sebagian besar penyakit kejiwaan meliputi depresi akut berat dengan kecenderungan bunuh diri, mania akut, skizofrenia, psikotik katatonik, dan delirium. Tehniknya cukup sederhana, efektif, dan juga menggantikan terapi kejang farmakologik. (Abdelmalak 2012; Daria 2012; Premendran 2012; Shah 2010)
       Di samping kontroversi yang ada, setiap tahun di Amerika terdapat sekitar 14 juta orang yang terdiagnosis depresi dan penanganan standar yang diberikan adalah dengan farmakoterapi. Akan tetapi, sekitar 50% pasien tidak berespon terhadap terapi farmakologi. Sayangnya, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa pengobatan lanjutan malah menurunkan keberhasilan remisi. Sebuah studi metaanalisis menunjukkan bahwa ECT lebih efektif daripada farmakoterapi tunggal atau kombinasi dalam pencapaian remisi depresi berat. Pasien usia lanjut juga dikenal lebih resisten terhadap farmakoterapi, tetapi diperkirakan bahwa hingga 50% akan membaik dengan ECT. Di Amerika sendiri, penggunaan ECT dihimbau oleh American Psychiatric Association dan sekitar 100.000 orang menjalani terapi ini setiap tahun. (Hines 2012; Mayo 2010)
       Pada awal penerapan ECT, sebelum dilakukan anestesi, penghantaran listrik langsung diberikan kepada pasien. Oleh karenanya, komplikasi trauma seperti fraktur vertebra, dislokasi sendi, lidah tergigit, robeknya serat otot, dan gigi patah sering dijumpai pada 50 % pasien. Selain itu, sangat tidak menyenangkan melihat pasien sedang kejang dan ditahan oleh beberapa orang untuk mencegah timbulnya cedera. Pengetahuan yang kurang mengenai parameter dosis stimulasi listrik menyebabkan gangguan fungsi kognitif. Tantangan bagi anestesi mencakup efek kompleks zat listrik dan kimia yang berpusat pada susunan saraf pusat (SSP) pasien. Seorang ahli anestesi harus menyeimbangkan kedalaman sedasi agar tidak terlalu dangkal karena beresiko menimbulkan cedera fisik akibat kejang dan tidak terlalu dalam karena dapat meningkatkan ambang kejang sehingga mencegah efek terapeutiknya. Angka komplikasi ECT sebanyak 50% di tahun 1960 telah banyak mengalami penurunan sampai saat ini, mirip dengan angka morbiditas dan mortalitas yang terlihat pada keberhasilan pembedahan dan kelahiran. WHO saat ini telah mengeluarkan larangan aplikasi ECT tanpa anestesi. (Butterworth 2013; Shah 2010; Uppal 2010)

       Sekitar akhir tahun 1950-an, ECT telah dilakukan dalam pengaruh anestesi umum. Tujuannya adalah untuk memberikan anestesi ringan (light anesthesia) karena anestesi yang terlalu dalam dapat menyebabkan komplikasi yang lebih besar misalnya waktu pulih yang lama dan gangguan kardiovaskular, dan selain itu, anestesi yang terlalu sedikit dapat menyebabkan ketidaksempuranaan pembiusan dan respon otonom yang berlebih. Tujuan lainnya adalah menjaga jalan napas senantiasa paten selama prosedur berlangsung. (Abdelmalak 2012; Kalapatapu 2015; Premendran 2012)