Emboli Air Ketuban

Meskipun pertama kali dijelaskan tahun 1926, emboli air ketuban tidak diakui sebagai sindrom sampai tahun 1941, ketika Steiner dan Lushbaugh melaporkan otopsi berseri yang menunjukkan musin janin dansel skuamosa pada pembuluh darah parudari delapan wanita yang meninggal akibat syok mendadak selama persalinan. 

Insidensi di seluruh duniabervariasi antara 1 : 8.000 dan 1 : 83.000 kelahiran hidup, dan kematian adalah antara 61 % sampai 86 % dan banyak daripasien yang meninggal dalam satu jam pertama setelah munculnya gejalaPenelitian di AS yang lebih barumelaporkan kejadian 1 : 20.646 kehamilan tunggal dan kematian 26 % (Mooreand Baldisseri, 2005).Insiden emboli air ketuban meningkat signifikan pada pasien yang menjalani bedah sesar (22/100.000) dibandingkan pasien yang menjalani persalinan per vaginam (8/100.000).

 Insidensi juga lebih tinggi pada pasien dengan usia 30-39 tahun (17/100.000) dibanding pasien usia 15-29 tahun (8/100.000) (Thongrong et al., 2013). Sindroma emboli cairan ketuban terjadi sekitar10 % dari seluruh kematian ibu diAmerika Serikat dan dapat mengakibatkan defisit neurologis permanen sampai dengan 85 % pada pasien yang selamat. Clark et al.(1990) mengusulkanmengubah nama sindrom dari"emboli cairan ketuban" menjadi "sindrom kehamilan anaphylactoid" karena adanyakesamaan antara manifestasiemboli cairan ketuban dan anafilaksis dan syok septik. 

Penelitian barutelah meningkatkan pemahamanemboli cairan ketuban dan memunculkan ide-ide baru sehubungan dengan definisi, diagnosis,dan manajemen. Selain itu,beberapa tes darah telah diusulkan sebagaiindikator diagnostik dan prognostik, dan beberapa zat lain telah terlibatdalam patogenesis emboli cairan ketuban (Moore.and Baldisseri, 2005).