Biomarker Sepsis - Procalcitonin

Sepsis merupakan beban utama pada sistem perawatan di Amerika Serikat, hal ini dikarenakan setiap tahun kasus sepsis meningkat. pada sebuah penelitian di Amerika Serikat, kejadian tahunan kasus sepsis terjadi 750.000 pertahun. Jumlah ini meningkat sebesar 9% setiap tahunnya. Meskipun angka kematian telah menurun 18,3%, jumlah kematian terkait sepsis  meningkat.  Pengaturan  dan pengelolaan  penderita saat  sebelum  menjalani  operasi sampai  dengan  benar-benar  pulih  merupakan  cara  untuk  menekan  angka  mortalitas  dan morbiditas  akibat  sepsis.  serta  akan  mengurangi  jumlah  biaya  yang  dikeluarkan  oleh pasien(Miller B and Berker KL 2001)


Sepsis merupakan suatu respon Inflamasi sistemik terhadap infeksi, dimana patogen atau toksin dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga terjadi aktivasi proses inflamsi. Perubahan  temperatur  tubuh,  perubahan  jumlah  leukosit,  tachycardia  dan  tachypnea merupakan tanda sepsis. sedangkan hipotensi atau disfungsi organ atau hipotensi merupakan tanda sepsis berat. Sepsis adalah SIRS ditambah tempat infeksi yang diketahui dan ditentukan dengan biakan positif terhadap organisme dari tempat tersebut. Meskipun SIRS, sepsis dan syok sepsis biasanya berhubungan dengan infeksi bakteri, tidak harus terdapat bakteremia. Bakteremia  adalah  keberadaan  bakteri  hidup  dalam  komponen  cairan  darah.  Bakteremia bersifat sepintas seperti biasanya dijumpai setelah jejas pada permukaan mukosa, primer (tanpa  fokus  infeksi  teridentifikasi)  atau  seringkali  sekunder  terhadap  fokus  infeksi
intravaskuler atau ekstravaskuler.(Pohan HT 2004)


Menurut   The American College of Chest Physician        (ACCP) and   The Society for
Critical  Care  Medicine    (SCCM) Consensus  Conference  on  Standardized  Definitions  of
Sepsis, telah mempublikasikan suatu konsensus dengan definisi baru dan kriteria diagnosis
untuk  sepsis  dan  keadaan-keadaan  yang  berkaitan  dan  menetapkan  kriteria          Systemic
Inflammatory Response Syndrome    (SIRS), sepsis berat dan septic shock adalah Bakteremia
adalah kondisiadanya bakteri dalam darah, yang dibuktikan dengan kultur darah positif. SIRS merupakan respon tubuh terhadap inflamasi sistemik, ditandai dua atau lebih keadaan Suhu > 38 0 C atau < 36 0 C, Takikardia (HR > 90 kali/menit), Takipnu (RR > 20 kali/menit) atau PaCO2 < 32 mmHg, Leukosit darah >12.000/μL, < 4.000/μL atau neutrofil batang > 10%,



Sepsis  merupakan  SIRS  yang  dibuktikan  atau  diduga  penyebabnya  kuman,  Sepsis  berat merupakan sepsis yang disertai dengan disfungsi organ, hipoperfusi atau hipotensi termasuk asidosis laktat, oliguria dan penurunan kesadaran.Septik syok adalah sepsis dengan hipotensi meskipun telah diberikan resusitasi cairan secara adekuat, bersama dengan disfungsi organ. Keadaan hipotensi adalah tekanan darah sistolik < 90 mmHg atau berkurang 40 mmHg dari
tekanan darah normal pasien.     Multiple Organ Dysfunction Syndrome     (MODS) merupakan
keadaan  dimana  Disfungsi  dari  satu  organ  atau  lebih,  memerlukan  Intervensi  untuk mempertahankan homeostasis. MODS dan syok septic adalah keadaan yang mengancam pasien pasca operasi dengan keadaan sepsis.(American College of Chest Physicians/Society of Critical Care Medicine
Consensus Conference 1992)

Terjadinya  resistensi  bakteri  terhadap  obat  antimikrobial  semakin  banyak  terjadi, maka diperlukan suatu pemeriksaan yang dapat digunakan untuk pemakaian antibiotik yang berlebihan. Pemeriksaan klinis dan/atau mikrobiologi sebagai parameter terjadinya infeksi atau sepsis telah banyak digunakan, namun pemeriksaan tersebut dilakukan biasanya sudah terlambat, sebagai contoh pemeriksaan kultur kuman sensitifitasnya suboptimal karena bisa saja  terjadi  kontaminasi  dari  tempat  lain  pada  saat  pengambilan  spesimen  sehingga spesifisitasnya  rendah  dan  pemeriksaan  ini  tidak  bisa  dilakukan  secara  rutin/serial.
Pemeriksaan lainnya seperti    C Reactive Protein , White Blood Cell (WBC,   laju endap darah
(LED), Tumor Necrosis Factor α   dan interleukin 1 dan 6   juga memiliki spesifisitas yang
rendah,  dan  sukar  untuk  membedakan  diagnosis  antara       systemic  inflamatory  respons
syndrome (SIRS)  dan sepsis pada pasien-pasien di ruang rawat intensif dalam waktu yang
cepat, karena harus menunggu hasil kultur darah selama beberapa hari, sementara pasien harus mendapat pengobatan yang tepat dalam waktu segera. (Meisner M et al. 2000;Pohan HT 2004;Simon L
et al. 2004;Vienna 2014)

Oleh karena pengukuran secara klinis dan laboratorium yang kurang sensitif dan spesifik,  diperlukan  tes  yang  dapat  membedakan  antara  inflamasi  karena  infeksi  dan inflamasi  karena  non  infeksi.  Adanya  inflamasi  karena  infeksi  dapat  dideteksi  dengan biomarker prokalsitonin.(Meisner M, Brunkhorst FM, Reith H, Schmidt Jet al, & et al 2000;Vienna 2014)  Pemeriksaan prokalsitonin ini dapat digunakan untuk memmantau hasil pengobatan. Prokalsitonin (PCT) adalah suatu prekusor dari hormon kalsitonin, secara bermakna meningkat sangat tinggi pada pasien yang menderita sepsis yang disebabkan oleh bakteri. Tes PCT sering digunakan dalam menentukan  diagnosa.  Orang  sehat,  konsentrasi  plasma  PCT  0,05  ng/ml,  tetapi  dapat meningkat mencapai 1000ng/ml atau septic shock. Meningkatnya level PCT menandakan

Terjadi infeksi bakteri inflamasi rekasi. Kadar PCT <0 0="" ada="" adanya="" bahwa="" bakteri="" beresiko="" dan="" diperkirakan="" infeksi="" kadar="" kondisi="" lokal.="" lokal="" memasuki="" menandakan="" mendapatkan="" meniadakan="" ml="" nbsp="" ng="" pasien="" pct="" rendah="" sedangkan="" sepsis="" sirs.="" sudah="" telah="" tetapi="" tidak="">2  ng/ml,  menandakan  bahwa  telah memasuki kondisi sepsis(Vienna 2014) . 


Pengukuran  PCT  secara  berkala  dapat  digunakan  untuk  memonitor  perjalanan penyakit  dan  sebagai  tindak  lanjut  (monitoring)  dari  terapi  pada  semua  infeksi  yang disebabkan  oleh  bakteri.  Peningkatan  nilai  PCT  atau  nilai  yang  tetap  konsisten  tinggi menunjukkan  menurunnya  reaksi  inflamasi  dan  terjadi  penyembuhan  infeksi (Meisner M
2005;Raghavan M and Marik PE 2006)