ANESTESI UMUM PADA OPERASI TONSILEKTOMI PASIEN DENGAN RIWAYAT EPILEPSI

Epilepsi adalah penyakit neurologi yng paling sering terjadi, dengan prevalensi pada umumnya rata rata 5-10 kasus per1000 orang. Insiden bervariasi tergantung jumplah faktor. Pada negara maju telah di temukan kira kira 50 kasus per 100.000 orang tiap tahun. Pada negara berkembang insidennya lebih tinggi (kira kira 100-190/100.000/tahun ) dengan alasan yang tidak begitu jelas. Dengan demikian dari sudut pandang anestesia, penting untuk mengetahui penanganan yang aman dari epilepsi pada periode perioperatif.(Ronald D Miller 2015) Epilepsi dijumpai pada semua ras di dunia dengan insidensi dan prevalensi hampir sama, walaupun beberapa peneliti menemukan angka yang lebih tinggi di negara berkembang. Kejang grandmal merupakan faktor komplikasi yang serius pada waktu pembedahan, dan harus diterapi secara agresif untuk mencegah jejas muskuloskeletal, hiperventilasi, hipoksemia dan aspirasi isi lambung. (Ronald D Miller 2015) Epilepsi adalah manifestasi gangguan otak dengan berbagai gejala klinis, disebabkan oleh lepasnya muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dan berkala, reversibel dengan berbagai etiologi. Aktifitas kejang dapat terlokalisasi pada area khusus di otak atau menyeluruh. Kejang fokal dapat meluas menjadi kejang umum/general. (Harsono 1999;Mardjono 1981) Pasien epilepsi yang akan menjalani anestesi perlu mendapatkan perhatian. Obat terapi epilepsi harus diteruskan dan kondisi pasien harus benar-benar terkontrol. Pemilihan anestesi juga perlu dipertimbangkan dengan baik, perlu diperhatikan pula untuk menghindari obat-obat yang mempunyai efek membangkitkan kejang.(Collins 1996;Ronald D Miller 2015)