ANESTESI PADA TRANSPLANTASI HEPAR

Transplantasi hepar telah menjadi terapi pilihan pada gagal hepar end-stage dan beberapa kasus gagal hepar akut. Transplantasi bisa bersifat orthotopic (tempat yang sama) atau heterotopic (tempat yang lain). Transplantasi orthotopic hepar pertama yang sukses dilakukan oleh Starzl pada tahun 1963 di Denver, Colorado. Sejak saat itu, seiring kemajuan pada manajemen bedah, anestesi dan imunologi menghasilkan survival graft yang memanjang dan 1 year survival rate > 80% secara keseluruhan. Transplantasi hepar bisa dilakukan pada semua usia. Transplantasi hepar pediatrik memiliki 10 year survival rate sebesar 80-90%.1
            Perawatan perioperatif pada pasien yang menjalani operasi hepatik sering menantang karena masalah medis yang sudah ada dan kondisi lemah yang ditemukan pada banyak pasien dengan penyakit hepar intrinsik serta potensi kehilangan darah yang signifikan selama operasi. Optimalisasi hemodinamik sering komplikatif oleh karena adanya konflik antara kebutuhan untuk menjaga kecukupan volume intravaskuler dan kebutuhan untuk menjaga tekanan vena sentral tetap rendah untuk meminimalkan liver engorgement dan perdarahan.2

            Ketika sebuah center kesehatan membuat program transplantasi hepar, dibutuhkan seorang anestesiologis berpengalaman dan telah menjalani pelatihan anestesi pada transplantasi hepar. Pembentukan tim anestesi untuk manajemen perioperatif transplantasi hepar haruslah diisi oleh individu yang mengerti secara cermat indikasi dan kontraindikasi transplantasi hepar.2